Di Jambi, terjadi situasi yang cukup membingungkan ketika salah seorang anggota menemukan sebuah sarang burung walet yang terletak di papan sirip. Namun, hal yang mengejutkan adalah saat ia menemukan bahwa sarang tersebut kosong dan tidak terdapat telur di dalamnya. Kejadian ini cukup mengkhawatirkan karena selama tiga bulan pengawasan, telur-telur burung walet tetap tidak muncul di dalam sarang tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa ada masalah yang perlu segera diselesaikan agar produksi telur burung walet di daerah tersebut dapat meningkat kembali.
Para pengamat merasa penasaran mengapa walet tidak tertarik untuk menetaskan telurnya di dalam sarangnya, bahkan meski ada sarang lain yang sudah memiliki telur. Keanehan semakin bertambah ketika ukuran sarang semakin besar namun tetap tidak ada tanda-tanda adanya telur di dalamnya. Induk walet justru terus meningkatkan produksi air liurnya di sarang tersebut, mengakibatkan tingkat kekentalan sarang semakin meningkat. Namun, meski dalam kondisi seperti itu, sarang tetap kosong dan kotoran terkumpul di lantai sarang. Oleh karena itu, para pengamat ingin mengetahui alasan konkret yang membuat walet enggan untuk menetaskan telurnya di dalam sarang yang sudah disiapkan untuk itu.
Mengapa nampaknya induk burung walet yang telah bermukim di sarang yang sama dalam jangka waktu yang lama, tidak lagi bertelur, khususnya di musim hujan yang merupakan waktu penuh dengan serangga sebagai sumber makanan? Padahal burung walet memiliki banyak pilihan makanan yang tidak perlu mereka cari ke tempat lain. Meskipun sebagian besar burung dalam rumah burung walet (RBW) tersebut sedang bertelur, namun mengapa masih terdapat satu sarang dengan ukuran yang besar namun tidak memiliki telur, walaupun di dalamnya terdapat induk burung walet yang tidur setiap malam, dari tanda-tanda kotoran yang selalu basah dan menumpuk di sana? Pertanyaan ini menjadi sangat menarik untuk dijawab, sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui masalah yang mungkin terjadi sehingga induk burung walet tersebut tidak mau lagi bertelur.
Ternyata, tidak menutup kemungkinan bahwa burung walet yang menempati gedung tersebut merupakan burung walet yang sudah cukup tua dan memasuki masa akhir hidup. Meskipun masih dapat menghasilkan liur, namun produksi telur sudah tidak lagi mampu dilakukan. Pengamat burung walet juga menekankan bahwa hal ini merupakan bagian dari siklus alami dalam kehidupan burung walet. Seiring bertambahnya usia, induk walet akan memasuki masa yang tidak produktif. Walaupun gedung walet yang dihuni masih baru, kemungkinan terdapat induk walet dari gedung lain yang bermigrasi dan memilih menempati gedung tersebut. Induk walet tersebut masih tetap mampu membuat sarang, namun tidak dapat bertelur.
"Sudahkah Anda mempertimbangkan untuk menuai sarang seperti itu, Pak?" tanya seseorang dengan penuh rasa ingin tahu. Ahli sarang menjawab, "Tentu saja mungkin untuk menuai sarang-semacam itu. Bentuk sarang itu termasuk dalam kategori sarang yang tidak produktif, dimana fungsinya hanya sebagai tempat tidur walet-walet tua. Jika sarang tersebut tidak diperoleh, warnanya akan berubah menjadi kuning atau bahkan keruh seiring waktu. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk menuainya agar kualitas sarang yang dihasilkan lebih baik." Sarang tersebut memang tidak digunakan untuk membantu berkembang biak walet, Tetapi harganya cukup mahal dan sangat diminati di pasar, sehingga tak heran jika sarang tersebut menjadi incaran banyak orang untuk dihasilkan oleh mereka yang menggeluti industri walet.
Dalam suatu pembicaraan, seseorang menyarankan untuk mengambil sarang burung walet yang terdapat di sebuah gedung. Namun, orang lain merasa kasihan dengan induk walet tua yang akan kehilangan tempat tidurnya. Seorang ahli sarang memberikan solusi dengan mengatakan bahwa setelah sarang asli dipanen, sarang palsu akan dipasang di tempat yang sama. Dengan demikian, induk walet tua tetap bisa tidur di tempat semula, namun bukan di sarang asli melainkan di sarang palsu yang telah dipersiapkan. Solusi ini diharapkan dapat menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlangsungan hidup burung walet.
"Saya siap mencoba bekerja dengan sarang burung palsu ini," ucap orang tersebut dengan mantap. Meski ada keraguan dalam dirinya, ia berani mencoba untuk melihat apakah sarang tersebut dapat digunakan sebagai tempat tinggal burung yang akan ia pelihara. Dalam hatinya ia berharap tidak merugikan satupun dari makhluk hidup dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, ia akan sangat hati-hati dalam memutuskan untuk menggunakan sarang tersebut atau tidak.
