Tupai dikenal sebagai hewan herbivora yang biasanya memakan tunas pohon, kacang-kacangan, biji-bijian, dan buah-buahan. Akan tetapi, ada jenis tupai tertentu yang juga makan daging, terutama saat kelaparan melanda. Tupai yang lincah dan tangkas ini mampu mencari serta menangkap mangsa kecil seperti serangga, tikus, dan burung. Kemampuan adaptasi luar biasa yang dimiliki oleh tupai membuat mereka tetap dapat bertahan hidup dalam berbagai kondisi sulit. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa tupai bukan hanya herbivora tetapi juga omnivora.
Ridwansyah merupakan seorang Reseller duniawalet yang berasal dari Tenggarong. Pengalaman yang dimilikinya sangat menarik dan inspiratif. Ia bahkan berhasil membangun sebuah rumah walet (ruwal) dengan luas mencapai 4 meter x 8 meter dan memiliki tiga lantai yang tinggi. Tak hanya itu, lokasi ruwal tersebut berada di antara kebun sawit dan persawahan, tepat di samping kebun buah sawo, serta di belakangnya terdapat perkebunan karet yang luasnya sekitar 30 meter. Ruwal yang dioperasikan selama 9 bulan ini cukup efektif karena Ridwansyah telah berhasil mengumpulkan 67 keping sarang walet. Selain itu, proses pengerjaan dan pemasangan olesan yang dilakukan olehnya membuat keuntungan semakin menjanjikan. Dengan keberhasilannya ini, Ridwansyah menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang yang ingin memulai bisnis yang sama. Betapa luar biasa!
Pada sebuah kesempatan, saat melakukan inspeksi pada ruangan pemeliharaan burung walet, Ridwansyah merasa penasaran saat melihat bahwa perkembangan populasi burung walet tersebut cenderung lambat. Terlebih lagi, ruangan tersebut sudah dijaga dengan aman dari ancaman hewan seperti tikus, tokek, kecoa, dan semut. Meskipun begitu, Ridwansyah mulai bertanya-tanya apakah faktor musim kemarau, persaingan di antara koloni burung walet, atau bahkan tata ruang yang kurang optimal menjadi penyebab dari lambatnya pertumbuhan populasi di ruang pemeliharaan burung walet tersebut. Selain itu, ia juga mempertanyakan apakah suara panggil yang digunakan perlu diganti agar burung walet lebih tertarik untuk masuk ke dalam ruangan. Meski telah berusaha mencari jawaban, namun hingga saat ini pertanyaan-pertanyaan Ridwansyah masih belum mendapatkan jawaban pasti. Suatu hari, saat masuk ke dalam ruangan pemeliharaan, Ridwansyah kaget menemukan potongan sayap burung walet yang tersebar di lantai. Namun, kepala dan tubuh dari burung walet tersebut tidak ditemukan sehingga semakin menambah pertanyaan Ridwansyah mengenai penyebab lambatnya pertumbuhan populasi burung walet di ruang pemeliharaan tersebut.
Sambil memikirkan keadaan ruwalnya, Ridwansyah merasa khawatir karena burung walet yang ada di dalamnya terancam oleh predator tikus yang sudah menyusup. Meski begitu, dia merasa sedikit meragukan jika tikus menjadi pelaku dalam insiden tersebut. Mengapa? Karena jika memang benar tikus yang memakan burung walet, seharusnya yang tersisa hanyalah sayap. Namun, jika ada tikus yang memangsa burung walet di dalam ruwal, pastilah akan meninggalkan kotoran dan bekas-bekas yang dapat ditemukan di sudut ruangan. Selain itu, bulu burung walet yang tertinggal juga menjadi tanda-tanda keberadaan tikus yang perlu diperhatikan dengan serius. Oleh karena itu, Ridwansyah merasa perlu untuk memeriksa lebih lanjut tentang penyusupan tikus tersebut dan mengambil tindakan yang tepat untuk menjaga keberlangsungan hidup burung walet.
Dalam ruangan yang sepi ini, tidak ada tanda-tanda kerumunan bulu di pojok ruangan. Hanya sehelai sayap yang tergeletak retak di lantai. Tidak satupun dapat mengungkapkan siapa yang melakukan perbuatan tersebut, meskipun Ridwansyah terus berputar di dalam kepalanya memikirkan jawaban pasti. Namun bisa dipastikan bahwa itu bukan ulah tikus karena tikus tidaklah memiliki kebiasaan seperti itu. Bagian burung walet hancur oleh gigitan tajam seperti gergaji yang dilakukan oleh tikus alih-alih ulah orang lain. Tikus melakukan ritual memakan dari kepala hingga kaki burung walet, kecuali bulu-bulu halusnya. Siapa yang harus disangka melakukan ini? Mungkin kelelawar? Ataukah itu karya dari elang? Oleh karena itu, misteri harus terus dipecahkan.
Sampai saat ini, Ridwansyah tetap bertanya-tanya tentang predator kejam apa yang telah membuat ruwalnya menjadi terancam. Pernah terlintas di benaknya bahwa mungkin jenis predator yang berkeliaran di sekitar gedung adalah yang tidak memiliki rasa kemanusiaan. Tindakan predator ini sangatlah berdampak bagi perkembangan populasi burung walet, yang bahkan mengalami stagnasi. Namun, untuk mengatasi masalah ini, Ridwansyah mencoba pemasangan perangkap berupa jaring ikan di sekeliling gedung pada bagian luar. Seiring berjalannya waktu, Ridwansyah kemudian menemukan seekor binatang terperangkap dalam jaring tersebut. Ternyata, binatang itu adalah seekor tupai. Namun, pertanyaan yang masih mengusik ridwansyah adalah apakah tupai tersebut adalah predator yang selama ini ia cari?
Demi melindungi burung walet yang menghuni ruwalnya, Ridwansyah nyanggong mempersiapkan senapan angin dalam kondisi siap terkokang. Setelah beberapa waktu, ia mengetahui bahwa predator yang memangsa burung walet di ruwalnya bukanlah tikus melainkan tupai. Kejadian ini terjadi pada musim kemarau, di mana tupai kesulitan mencari makanan sehingga menyerang burung walet di dalam ruwal sebagai sasaran. Ridwansyah berhasil menembak dan membunuh tupai tersebut, namun ia masih merasa khawatir karena masih ada sekawanan tupai lain yang berkeliaran di pepohonan sawo dan dapat membahayakan burung walet yang memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Oleh karena itu, Ridwansyah memutuskan untuk tetap waspada dan siaga dalam menjaga keamanan ruwal tersebut.
