Sambil berjalan di sepanjang PLBN Aruk di Kecamatan Sajingan Besar dari Kecamatan Galing, Anda akan merasakan keindahan pemandangan kebun karet dan sawit yang teratur. Memang, sumber penghidupan utama masyarakat di Galing dan Sajingan Besar yang berbatasan langsung dengan wilayah Kuching, Sarawak, Malaysia, adalah pertanian. Tidak dapat dipungkiri, mereka sangat bergantung pada hasil bumi yang mereka tanam dan panen. Oleh karena itu, Anda akan melihat betapa pentingnya tanaman karet dan sawit bagi kelangsungan hidup mereka.
Tidak jarang terdapat pemandangan yang unik saat Anda berkeliling, salah satunya adalah bangunan setinggi 7-9 meter yang dipenuhi oleh burung walet. Ternyata, bangunan tersebut merupakan rumah yang disediakan untuk walet dalam membuat sarangnya. Hal ini tentu menarik untuk diamati karena tidak banyak orang yang bisa melihat langsung proses pembuatan sarang burung walet.
Agus Supriadi, salah satu pemilik, mengungkapkan bahwa rumah walet adalah salah satu jenis investasi yang diminati oleh masyarakat di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Bagi Agus, rumah walet bukan hanya sekadar hunian bagi burung walet, namun juga sebagai sumber penghasilan alternatif yang menjanjikan. Ia melihat potensi besar dari investasi tersebut di masa depan, sehingga ia tertarik untuk mengembangkan bisnis rumah walet. Selain itu, Agus juga berharap bahwa investasi ini dapat memberikan manfaat dan meningkatkan taraf hidup bagi masyarakat sekitar.
Menurutnya, sarang walet juga bisa dianggap sebagai salah satu jenis investasi yang sama dengan emas, bank, atau bangunan. Namun, pada masa lalu harganya agak tinggi sehingga lebih dikategorikan sebagai investasi walet, seperti yang lazim disebutkan oleh orang tua. Hal tersebut diungkapkannya dalam kesempatan wawancara dengan detikcom beberapa waktu yang lalu.
Seorang bernama Apen, yang akrab dipanggil demikian, mengungkapkan bahwa dia telah memiliki rumah walet yang didirikan oleh orang tuanya sejak tahun 2008. Pada saat itu, hanya sedikit orang yang menginvestasikan diri mereka dalam bisnis ini, yaitu hanya 2-3 orang saja. Namun, sekarang sudah ada lebih dari sepuluh orang yang tertarik untuk memulai bisnis ini. Hal ini menunjukkan bahwa bisnis rumah walet semakin populer dan menawarkan peluang besar untuk keuntungan di masa depan.
Sejak tahun 2008, dulu waktu itu masih belum banyak yang menggunakan istilah untuk daerah di sini, hanya 2-3 orang saja yang mengenalinya. Namun sekarang, di tempat ini, sudah banyak orang yang mengenalinya, bahkan sudah mencapai belasan digit dan bahkan satu-dua yang berdempet pun sudah ada. Begitu ceritanya.
Diketahui bahwa di dalam satu rumah walet memiliki kemampuan untuk menampung sekitar 200 hingga 300 ekor walet. Namun, tidak dapat disangkal bahwa ada juga pemilik rumah walet yang mampu menampung hingga 10.000 ekor walet di dalamnya, seperti yang pernah ia lihat sebelumnya. Maka, dapat disimpulkan bahwa kapasitas rumah walet dapat bervariasi tergantung dari ukuran serta keberlangsungan hunian walet di dalamnya.
Dalam jangka waktu satu tahun, ia dengan bangga mengaku mampu melakukan panen sarang walet sebanyak tiga kali, atau dapat dilakukan setiap interval empat bulan sekali. Tiap kali melakukan panen, ia mampu menghasilkan sarang walet sebanyak 120 - 130, yang diukur setara dengan 1 - 2 kg, yang bisa mendapatkan keuntungan sekitar Rp 10-11 juta saat dijual ke tengkulak di sekitar tempat tinggalnya.
Ternyata walet biasa memilih tempat untuk membangun sarangnya di atap ataupun dinding samping. Namun, untuk memperoleh manfaat dari sarang walet ini, Apen perlu melakukan proses pengambilan sarang dengan menyayatnya menggunakan pisau. Hasilnya pun siap dijual kepada tengkulak setempat dalam waktu yang relatif cepat.
Agus, seorang Agen BRILink, merasa bersyukur karena selama pandemi ia tidak mengalami penurunan pendapatan. Terlebih lagi, ia telah menemukan kesempatan untuk meraih tambahan pemasukan bersih sekitar Rp 5-6 juta per bulan dari pekerjaan sambilannya sebagai Agen BRILink. Hal ini membuat Agus merasa sangat beruntung dan berterima kasih atas rezeki yang ia terima di tengah situasi sulit seperti saat ini. Agus memanfaatkan situasi ini dengan baik dan bisa mendapatkan hasil yang maksimal dari usahanya. Ia menjadi salah satu contoh bahwa dengan tekad dan kerja keras, seseorang masih bisa menghasilkan uang saat masa sulit seperti pandemi ini.
Menurut Agus, BRILink adalah anugerah terbesar. Ada banyak transaksi yang dilakukan melalui BRILink, seperti tarik tunai, transfer, dan pembayaran iuran PLN. Karena Agus termasuk dalam orang yang cukup aktif menggunakan layanan BRILink, tentunya ia merasa sangat terbantu dengan adanya layanan tersebut.
Agus terpilih sebagai satu dari enam belas Agen BRILink yang beroperasi di wilayah Kecamatan Galing serta Kecamatan Sajingan Besar, di bawah pengelolaan BRI Unit Galing. Dalam rangka perayaan ulang tahun ke-125, BRI hadir dengan tema BRILian dan memperkuat keberadaannya di perbatasan, sehingga memfasilitasi masyarakat dalam melakukan transaksi perbankan dengan mudah.
Saat ini, kita hidup dalam situasi yang penuh tantangan dan sulit. Namun, BRI telah beraksi untuk membantu menyelamatkan UMKM yang terdampak pandemi. Tindakan ini meliputi memberikan restrukturisasi kredit dan subsidi bunga kepada para peminjam yang membutuhkan, serta menyalurkan bantuan dari pemerintah seperti BPUM dan BSU. Dengan cara ini, BRI terus mengambil langkah konkret untuk menangani beberapa tantangan ekonomi yang dihadapi di saat krisis dan mengambil peran yang signifikan dalam memulihkan ekonomi nasional.
