Setelah mendapat pemberitahuan dari Otoritas Kepabeanan Tiongkok (GACC), dua dari lima eksportir sarang burung walet (SBW) sempat mengalami penundaan dalam melakukan ekspor. Namun, kini keduanya dapat kembali melakukan ekspor dan bergabung kembali dengan tiga eksportir SBW lainnya. Meskipun sempat mengalami kendala, upaya ekspor SBW tetap berlanjut dan berpotensi untuk terus tumbuh di masa depan.
Kepala Badan Karantina Pertanian, Bambang, mengumumkan pada Selasa (26/10/2021) bahwa terdapat evaluasi realisasi impor SBW dari Indonesia yang melewati batas kapasitas yang telah ditetapkan. Hal ini disampaikan melalui sebuah pemberitahuan yang dapat menjadi perhatian bagi semua pihak yang terlibat dalam industri impor tersebut. Dalam rangka menjaga keamanan dan kesehatan pertanian di dalam negeri, perlu dilakukan langkah-langkah pengaturan yang tepat agar impor SBW dapat dilakukan dengan baik dan sesuai dengan ketentuan yang ada. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi dan perbaikan terhadap sistem impor SBW dari Indonesia untuk memastikan aspek keamanan dan kesehatan pertanian terjaga dengan baik.
Dari data yang disampaikan oleh Bambang, terdapat lima perusahaan yang didaftarkan di Tiongkok pada tahun 2017 lalu. Sayangnya, dari kelima perusahaan tersebut, hanya satu perusahaan yang berhasil memenuhi kapasitas produksi yang terdaftar. Sementara, empat perusahaan lainnya justru tercatat melakukan ekspor di atas kapasitas produksinya. Tak hanya itu, satu perusahaan lainnya juga tercatat memiliki kandungan nitrit yang melebihi batas yang telah ditetapkan. Kondisi ini tentunya sangat merugikan konsumen dan perlu ditindaklanjuti dengan tegas untuk menjaga kualitas produk serta kesehatan masyarakat.
Kami memperhatikan secara khusus kebijakan Bapak Menteri Pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan ekspor. Oleh karena itu, berbagai upaya kami lakukan, seperti melakukan negosiasi dengan negara tujuan dan memberikan pembinaan kepada pelaku usaha agar dapat melejitkan ekspor. Dengan adanya kebijakan yang memperkuat ekspor, kami memastikan bahwa semua langkah yang dilakukan akan membantu meningkatkan perekonomian negara.
Menurut Wisnu Wasisa Putra, selaku Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani, Barantan telah memberikan bantuan dan pendampingan kepada para pelaku usaha dalam menghadapi pemerintah Tiongkok yang melakukan audit kembali terhadap lima perusahaan yang mengalami penghentian ekspor. Seluruh proses ini berlangsung secara virtual melalui GACC dan Barantan siap membantu para pelaku usaha menjawab segenap pertanyaan dan menghadapi berbagai tantangan yang mungkin terjadi. Dalam hal ini, Barantan sangat penting sebagai lembaga yang turut berperan aktif dalam mendukung kelancaran dan keberhasilan ekspor hewan serta produknya ke negara lain.
Menurut Wisnu, pada bulan Oktober 2021, terdapat dua perusahaan, yaitu PT ACWI dan PT FNS, yang berhasil memperoleh persetujuan untuk kembali melakukan ekspor. Hal ini tentunya merupakan hasil yang luar biasa bagi kedua perusahaan tersebut yang telah berjuang keras dalam mengajukan permohonan ekspor kembali.
Meskipun telah ada tiga perusahaan yang mengajukan permohonan, namun masih perlu ada klarifikasi dan pengiriman hasil uji laboratorium sebelum dapat diproses selanjutnya. Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan tersebut masih harus mengikuti bimbingan teknis dari Barantan sambil menunggu jadwal audit dari GACC. Pandemi COVID-19 juga menjadi faktor yang berpengaruh dalam proses pengajuan tersebut sehingga diperlukan kerja sama dari semua pihak untuk menjaga kelancaran proses pengolahan dokumen dan persetujuan izin.
Data IQFAST Barantan, Kementan pada Oktober 2021 mencatat bahwa ekspor reclaimed rubber atau SBW asal Indonesia telah mencapai 1,1 ton, dimana sebesar 17% atau sekitar 177,1 ribu ton diekspor ke Tiongkok. Selain itu, pasar SBW Indonesia juga telah menembus pasar luar negeri hingga ke 22 negara lain, diantaranya Australia, Amerika Serikat, Vietnam, Inggris, Singapura, dan masih banyak lagi. Hal ini menunjukkan potensi besar dari produk SBW Indonesia yang dipercaya kualitasnya oleh negara-negara lain di luar Indonesia.
Menurut Bambang, Tiongkok telah menjadi target pasar ekspor yang menarik bagi para pelaku usaha SBW di tanah air. Pasalnya, harga jual di sana lebih tinggi meskipun persyaratan yang harus dipenuhi juga lebih ketat. Maka tidak heran jika banyak perusahaan berlomba-lomba untuk menyasar pasar ekspor China guna memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Dalam rangka mengekspor SBW ke Tiongkok, Barantan memberikan perhatian khusus pada persyaratan sanitari dan protokol yang harus dipenuhi. Barantan juga menyadari bahwa selain memerhatikan kadar nitrit yang tidak boleh melebihi 30 ppm, Tiongkok juga memberlakukan kuota ekspor dengan menerapkan sistem ketertelusuran atau traceability system. Sebagai upaya tambahan, Barantan telah melaksanakan langkah teknis yang ketat guna memastikan bahwa persyaratan tersebut dapat terpenuhi dengan baik.
Menurutnya, penggunaan sistem ini memberikan keuntungan karena semua aspek dapat dipantau dengan teliti, baik dari sumbernya hingga pada akhirnya dikonsumsi. Sehingga, dapat dipastikan bahwa proses yang terjadi telah terlacak secara benar dan berkualitas. Dengan demikian, risiko yang ditimbulkan akibat ketidakseimbangan dapat dihindari dan meningkatkan efisiensi dalam berbagai sektor. Hal ini membuktikan bahwa penerapan sistem ini memberikan manfaat bagi keberlangsungan berbagai bisnis dan industri di masa mendatang.
