Ketika RBW pertama kali memulai operasinya, kawasan tersebut selalu didominasi oleh walet-walet muda yang masih dalam usia yang lebih muda. Namun, setelah beberapa bulan berjalan, mereka mulai mencari pasangan hidup dan akhirnya membentuk hubungan yang harmonis. Seiring berjalannya waktu, pasangan muda tersebut memilih untuk membuat sarang sebagai tempat berkembang biak. Dan inilah saat-saat awal dari pembentukan sarang yang dibuat oleh pasangan walet muda tersebut. Oleh karena itu, sarang tersebut dianggap sebagai sarang baru yang masih segar dan memiliki keistimewaan karena merupakan hasil dari perakitan pasangan muda.
Dalam perspektif ini, seorang anggota di Balikpapan mengajukan pertanyaan menarik, yaitu apakah ia dapat membudidayakan sarang walet yang sudah dimilikinya dan melakukan panen setelah anakan walet terbang. Sementara itu, pertanyaan penting yang ditanyakan oleh anggota lain adalah kemungkinan risiko jika sarang walet yang baru dibangun bereproduksi dengan banyak dan segera dipanen. Disarankan untuk tidak terburu-buru dalam memanen sarang, mengingat bahwa jumlah sarang masih sedikit. Sebaiknya, populasi burung walet dibiarkan berkembang dan jumlah sarang bertambah terlebih dahulu, karena kondisi psikologis burung walet dapat terganggu secara negatif jika jumlah sarang masih sedikit.
Menjaga keberlangsungan hidup burung walet dan sarang mereka adalah suatu hal yang penting dan harus diperhatikan dengan serius. Sarang yang baru dibuat oleh burung walet sebagai tempat berbiak memang memiliki manfaat yang besar, namun juga dapat menimbulkan potensi risiko. Pemilik sarang yang masih muda perlu diwaspadai, karena mereka dapat mengalami stres dan berpotensi menolak membuat sarang lagi di posisi itu ketika sarang mereka dipanen. Beberapa kasus di lapangan telah mengindikasikan bahwa walet muda dapat menjadi "ngambek" dan menolak untuk bergabung kembali dengan sarang mereka. Sebagai contoh, seorang anggota di Oki Palembang baru-baru ini memanen 25 sarang dari RBW-nya sebelum burung walet membentuk sarang lagi. Oleh karena itu, dalam melakukan panen sarang, perlu memperhatikan faktor-faktor yang dapat memengaruhi keberlangsungan hidup burung walet dan menghindari efek samping yang tidak diinginkan.
Setelah satu bulan berlalu, saat dilakukan pemeriksaan terhadap papan sirip bekas sarang, tidak terlihat lagi keberadaan sarang baru maupun polesan liur. Kotoran di lantai pun sudah kering, membuat member dilema dan bertanya-tanya, apakah burung walet telah pindah ke sirip lain atau kabur ke gedung lain setelah sarangnya dipanen. Namun, sesuai dengan pengetahuan yang ada, semakin lama burung walet bertengger di sebuah gedung, maka semakin betah iya tinggal di dalamnya dan sulit untuk pindah ke gedung lain. Hal ini terjadi karena burung walet yang sudah merasa seperti sedang 'at home' dan sudah beberapa kali beranak-pinak, sehingga biarpun sarang diambil, mereka akan tetap membuat sarang di posisi semula dan tidak akan pindah ke sirip lain apalagi ke gedung lain.
Meskipun telah berdiam dalam RBW selama periode waktu yang lama, burung walet menjadi sangat sulit untuk dipindahkan ke lokasi yang berbeda. Namun, meskipun demikian, burung walet akan memilih untuk tetap tinggal di RBW tersebut selama tidak ada gangguan yang berbahaya bagi fisiknya. Jadi jika Anda ingin mengetahui informasi mengenai sarang baru yang dibuat oleh burung walet dan digunakan untuk bertelur untuk pertama kalinya, sebaiknya jangan terburu-buru untuk memanen. Tunggu hingga dua kali anak burung menetas untuk mengurangi risiko kehilangan mereka ke gedung yang lain. Dalam hal ini, burung walet dapat terus bertelur dan tinggal di daerah RBW yang aman dan mapan.
Jika suatu saat Anda ingin memanen sarang di RBW yang masih sedikit, lakukan dengan hati-hati karena ada risiko besar yang dapat dialami oleh walet seperti stres. Namun, jika Anda memilih untuk memanen pada RBW yang sudah memiliki banyak sarang, risiko stres akan lebih rendah. Oleh karena itu, penting untuk melakukan perlakuan yang memastikan RBW dalam kondisi aman dan tenang agar walet dapat berkembang biak secara maksimal pada tahun pertama. Pastikan untuk menghindari segala bentuk gangguan atau stres yang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan RBW. Ambil tindakan preventif yang tepat untuk memastikan walet tetap nyaman dan berkembang secara optimal.
